Dalam perjalanan panjang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Mataram, nama Lalu Aksar Ansori Faishal menempati posisi penting sebagai salah satu pemimpin yang membawa PMII memasuki dinamika baru pada era 1990-an. Ia tercatat sebagai Ketua PMII Cabang Mataram Periode 1993–1994, sebuah periode ketika PMII semakin menguat sebagai organisasi kader yang aktif membangun tradisi intelektual, gerakan sosial, dan penguatan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah di lingkungan perguruan tinggi.
Kepemimpinannya menjadi mata rantai penting dalam estafet sejarah PMII Mataram yang dimulai sejak berdirinya cabang pada tahun 1972. Setelah periode kepemimpinan Dr. H. Jamaluddin, S.H., M.Si. (1991–1993), tongkat estafet organisasi dilanjutkan oleh Lalu Aksar Ansori Faishal, sebelum kemudian diteruskan oleh M. Izzuddin (1994–1996). Masa tersebut merupakan fase penting ketika PMII Mataram terus memperluas kaderisasi sekaligus memperkuat posisinya sebagai ruang pembentukan pemimpin muda di Nusa Tenggara Barat.
Tumbuh dari Tradisi Pesantren
Lalu Aksar Ansori Faishal lahir di Penujak, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah, pada 12 Juni 1970. Ia dibesarkan dalam keluarga yang menjunjung tinggi pendidikan agama, kejujuran, dan pengabdian kepada masyarakat.
Pendidikan keagamaannya ditempa di Pondok Pesantren Sullamul Ma’ad Penujak, kemudian diperdalam di Pondok Pesantren Attamimi Brangsak di bawah bimbingan TGH. Lalu Khairi Adnan. Tradisi pesantren tersebut membentuk karakter kepemimpinan yang moderat, terbuka terhadap dialog, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.
Ketika menempuh pendidikan tinggi, ia aktif dalam organisasi kemahasiswaan dan memilih PMII sebagai ruang pengembangan intelektual, kepemimpinan, dan pengabdian.
Berproses di PMII Mataram
Bagi Lalu Aksar Ansori, PMII bukan sekadar organisasi mahasiswa, melainkan sekolah kepemimpinan yang mengajarkan berpikir kritis, menghargai perbedaan, membangun musyawarah, dan mengabdi kepada masyarakat.
Sebagai kader, ia aktif dalam berbagai kegiatan kaderisasi, diskusi ilmiah, advokasi mahasiswa, serta konsolidasi organisasi. Pengalaman tersebut mengantarkannya dipercaya memimpin PMII Cabang Mataram Periode 1993–1994.
Pada masa kepemimpinannya, PMII Mataram terus menjaga tradisi intelektual melalui forum diskusi, penguatan kaderisasi, serta pengembangan kepemimpinan mahasiswa. Organisasi juga semakin memperkuat hubungan dengan keluarga besar Nahdlatul Ulama sebagai landasan nilai dan gerakan.
Periode kepemimpinan Lalu Aksar Ansori menjadi bagian dari sejarah penting PMII Mataram dalam menyiapkan kader-kader yang kemudian banyak berkiprah sebagai akademisi, birokrat, politisi, penyelenggara negara, aktivis masyarakat sipil, hingga tokoh keagamaan.
Aktivis Organisasi dan Kepemudaan
Selepas aktif di PMII, Lalu Aksar Ansori terus melanjutkan pengabdiannya melalui berbagai organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan.
Ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPD KNPI NTB (1997–2000) serta memimpin GP Ansor Provinsi NTB selama dua periode (2001–2005 dan 2006–2010). Selain itu, ia aktif di berbagai organisasi masyarakat sipil yang bergerak di bidang tata kelola pemerintahan, anggaran publik, sumber daya alam, dan pemberdayaan masyarakat.
Pengalaman tersebut memperluas kapasitas kepemimpinannya dan memperkuat jejaring kolaborasi lintas sektor.
Mengawal Demokrasi di Nusa Tenggara Barat
Pengalaman panjang di organisasi mengantarkannya menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Nusa Tenggara Barat pada tahun 2008.
Puncak pengabdiannya di bidang kepemiluan terjadi ketika dipercaya sebagai Ketua KPU Provinsi NTB Periode 2014–2019. Di bawah kepemimpinannya, KPU NTB dikenal mendorong penyelenggaraan pemilu yang profesional, transparan, akuntabel, dan partisipatif.
Berbagai inovasi dikembangkan, mulai dari pendidikan pemilih melalui Rumah Pintar Pemilu dan Bale Pemilu, penguatan keterbukaan informasi publik, hingga peningkatan tata kelola kelembagaan. Berbagai agenda nasional seperti Pemilu Legislatif, Pemilu Presiden, dan Pemilihan Kepala Daerah di NTB dapat diselenggarakan dengan aman dan kondusif.
Mengabdi Melalui Nahdlatul Ulama
Setelah menyelesaikan masa tugas di KPU, Lalu Aksar Ansori kembali aktif dalam organisasi keagamaan.
Sebagai Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Nusa Tenggara Barat, ia berperan dalam memperkuat konsolidasi organisasi, pengembangan pendidikan pesantren, moderasi beragama, dan sinergi antara ulama, pemerintah, serta masyarakat.
Ia juga aktif di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi NTB dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) NTB, memperlihatkan kesinambungan pengabdian dari dunia kemahasiswaan menuju pelayanan publik dan kehidupan sosial-keagamaan.
Warisan bagi PMII
Dalam sejarah PMII Mataram, Lalu Aksar Ansori Faishal dikenang sebagai:
- Ketua PMII Cabang Mataram Periode 1993–1994.
- Kader PMII yang melanjutkan pengabdian di organisasi kepemudaan dan Nahdlatul Ulama.
- Mantan Ketua GP Ansor NTB dua periode.
- Mantan Ketua KPU Provinsi Nusa Tenggara Barat.
- Tokoh demokrasi dan pendidikan politik di NTB.
- Penggerak moderasi beragama dan pemberdayaan masyarakat.
Perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa kaderisasi PMII tidak berhenti ketika seseorang menyelesaikan masa kepengurusan. Nilai-nilai yang dibangun di PMII—integritas, kejujuran, musyawarah, keberpihakan kepada masyarakat, dan semangat pengabdian—terus menjadi bekal dalam berbagai amanah publik.
Bagi generasi muda PMII, sosok Lalu Aksar Ansori Faishal menjadi teladan bahwa proses kaderisasi merupakan investasi jangka panjang untuk melahirkan pemimpin yang mampu mengabdi di berbagai bidang, mulai dari organisasi kemasyarakatan, demokrasi, pemerintahan, hingga kehidupan keagamaan, dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah dan semangat kebangsaan.




