Lalu Misban, Tokoh Perintis PMII Mataram
Dalam sejarah panjang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Nusa Tenggara Barat, nama Drs. H. Lalu Misban memiliki tempat yang sangat istimewa. Ia tercatat sebagai Ketua Umum pertama PMII Cabang Mataram sekaligus salah satu tokoh pelopor yang meletakkan fondasi kaderisasi PMII di Pulau Lombok.
Kepemimpinan Lalu Misban pada periode 1972–1975 menjadi tonggak penting lahirnya PMII sebagai organisasi mahasiswa Islam yang kemudian berkembang menjadi salah satu kekuatan intelektual dan gerakan sosial terbesar di Nusa Tenggara Barat.
Awal Berdirinya PMII Mataram
Masuknya PMII ke Mataram tidak terlepas dari peran para alumni PMII yang pernah menempuh pendidikan tinggi di berbagai kampus di Jawa seperti Surabaya, Malang, Yogyakarta, dan Semarang.
Tokoh-tokoh seperti Drs. H. Israil, L. Moh. Chatim BA, dan Prof. Lalu Saeful Muslim mulai memperkenalkan PMII kepada mahasiswa di Mataram pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an.
Melalui berbagai diskusi dan konsolidasi yang dilakukan para alumni dan mahasiswa, akhirnya pada tahun 1972 disepakati pembentukan PMII Cabang Mataram.
Dalam musyawarah tersebut, Lalu Misban dipercaya menjadi Ketua Umum pertama PMII Mataram, sementara posisi Sekretaris Umum dipegang oleh Lalu Putrajab.
Kepercayaan tersebut menunjukkan kapasitas kepemimpinan dan komitmen Lalu Misban dalam membangun organisasi mahasiswa berbasis nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah dan kebangsaan.
Memimpin PMII di Masa Awal yang Penuh Tantangan
Ketika PMII Mataram berdiri, kondisi organisasi masih sangat sederhana. Infrastruktur organisasi belum terbentuk, jumlah kader masih terbatas, dan akses komunikasi antar kampus juga belum semudah saat ini.
Di bawah kepemimpinan Lalu Misban, PMII mulai membangun jaringan kaderisasi di lingkungan:
- Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Cabang Mataram (sekarang UIN Mataram)
- IKIP Mataram
- Berbagai komunitas mahasiswa Islam di Kota Mataram
Periode awal tersebut menjadi masa penting dalam memperkenalkan PMII sebagai organisasi mahasiswa yang mengedepankan pengembangan intelektual, kepemimpinan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Meletakkan Fondasi Kaderisasi
Salah satu warisan terbesar Lalu Misban adalah keberhasilannya meletakkan fondasi kaderisasi PMII di Mataram.
Di masa kepemimpinannya, PMII mulai dikenal sebagai ruang pembelajaran bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan kapasitas kepemimpinan, wawasan keislaman, dan semangat kebangsaan.
Dari proses kaderisasi yang dibangun pada masa awal tersebut, lahir generasi-generasi penerus yang kemudian melanjutkan estafet kepemimpinan PMII Mataram hingga sekarang.
Inspirasi bagi Generasi PMII
Sebagai Ketua Umum pertama PMII Mataram, Lalu Misban bukan hanya pemimpin organisasi, tetapi juga simbol keberanian generasi awal PMII dalam membangun tradisi intelektual dan gerakan mahasiswa Islam di Nusa Tenggara Barat.
Jejak perjuangannya menjadi inspirasi bagi ribuan kader PMII yang kemudian tumbuh dan berkiprah sebagai:
- Akademisi dan dosen
- Guru dan tenaga pendidik
- Birokrat dan aparatur sipil negara
- Politisi dan anggota legislatif
- Aktivis sosial kemasyarakatan
- Tokoh agama dan tokoh masyarakat
Warisan Sejarah yang Tetap Hidup
Lebih dari lima dekade setelah berdirinya PMII Mataram, nama Lalu Misban tetap dikenang sebagai tokoh perintis yang membuka jalan bagi perkembangan PMII di Nusa Tenggara Barat.
Tanpa keberanian dan dedikasi generasi awal seperti Lalu Misban, PMII mungkin tidak akan berkembang menjadi organisasi kader yang melahirkan banyak pemimpin daerah dan nasional dari NTB.
Semangat yang diwariskannya tetap relevan hingga hari ini: membangun kader yang berilmu, berakhlak, memiliki komitmen kebangsaan, serta siap mengabdi untuk umat, bangsa, dan negara.
Mengenang Ketua Pertama PMII Mataram
Bagi keluarga besar PMII dan IKA PMII NTB, Lalu Misban bukan sekadar nama dalam sejarah organisasi. Ia adalah bagian penting dari perjalanan panjang PMII di Bumi Gora.
Sebagai Ketua Umum pertama PMII Mataram periode 1972–1975, Lalu Misban telah menorehkan warisan yang terus hidup dalam setiap proses kaderisasi, gerakan intelektual, dan pengabdian kader PMII hingga generasi sekarang.
“Sekali PMII, Tetap PMII. Sekali Berjuang, Tetap Berjuang.”





